NKN NEWS STICKER

Akibat imbas debu vulkanik gunung Kelud, di Mojokerto kini langka masker. Bahkan dibeberapa apotik dan swalayan juga habis

Minggu, 11 September 2011

Monyet (bedhes) Lebih Patuh Pada Peraturan?

Suatu ketika ada pertunjukan topeng monyet. Seperangkat alat musik gamelan kenong 3 buah seperti apem yang dipadukan dengan kendang dan timbal...creng! dipukul keras-keras oleh sang "musikus" topeng monyet. Sementara sang "pawang" (kera atau bedhes) melakukan perintah atraksi kepada si monyet. Mulai dari memikul air, ke pasar, bersolek dan sampai naik motor.

Cepat saja dikerumuni oleh penonton yang sebgian besar adalah anak2 dan juga adapula bapak dan ibu-ibu. Mereka mengelilingi atraksi yang digelar spontan tanpa perijinan asal ada keramaian dan pelunag rejeki mereka tentulah akan menggelar atraksi topeng monyet ini.

Saat berlangsung atraksi mengambil air , sang monyet membawa timba air. Dengan pandangan kosong dan sesekali marah monyet ini menuruti perintah "majikannya" itu. Ya tak ubahnya seperti juga karyawan kantoran atau hubungan buruh dan majikan ini adalah sebuah bentuk simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Si Monyet tentu tak berharap banyak kecuali ada pisang dan air minum, namun majikan dan "staffnya" itu yang memiliki kebutuhan lebih komplek.Si monyet mengitari penonton, sesekali berhenti, mungkin saja karena kelelahan atau ngambeg, maka sang majikan akan menarik tali yang dikalungkan di leher si monyet.

Bersamaan dengan atraksi ambil air itu , seorang bapak melempar uang yang ke dalam timba, tetapi uang itu terjatu di tanah, si monyet cuek saja dengan maksud bapak tadi. Demikian pula dengan beberapa orang yang lain juga ada yang mulai memberikan uang sebagai harga "ticket" pertunjukan, lagi-lagi monyet tak menghiraukan , dia terus dengan kewajibannya menghibur orang2 di sekitarnya. Si bapa yang melempar uang itu mengambil kembali uang recehan 1000ribunya demikian pula dengan beberapa orang yang lain.

Saat atraksi mulai berakhir, maka si monyet membawa sebuah wadah yang di edarkan ke pengunjung seperti kotak amal di masjid. Maka monyet itu mulai memungut uang dari penonton, dengan seksama monyet itu mengacungkan wadahnya. 

Akhirnya ada sebuah kesimpulan dari proses ini. Bahwa monyet begitu mengerti dengan skenario yang merupakan "protap" dalam melaksanakan kewajibannya. Saat melakukan atraksi, si monyet tidak akan menghiraukan uang yang dilemparkan pengunjung seberapapun besarannya. Namun begitu sampai pada acara "pemungutan" uang, maka monyet ini mau menerima bahkan dia akan terduduk diam bila penonton tidak segera memberikan uangnya! Ternyata  monyet patuh terhadap peraturan!

Bila kita korelasikan dengan proses yang terjadi di alam manusia, masih banyak mereka yang tidak memetuhi peraturan bahkan cenderung melanggar, seperti "tega" menerima gratifikasi, bahkan proyek yang amasih dalam perencanaan saja sudah ada transaksi penyuapan...itu masih diluar hak yang diterimanya setiap bulan? Ya terlepas dari benar atau tidak apa yang diceritakan ustad semalam dalam acara halal bi halal di kampung saya ini, memang ada juga benarnya...akankah kita turun derajad dibawah derajat monyet? ato bedhes? Tidaklah ya...mari patuhi segala peraturan***Nangkris
Selengkapnya »»  

Sabtu, 10 September 2011

Menanti Wanita "Kuat"



Bu Si Bu nyuwun arto (Ibu minta uang)
Ing njawi wonten  kere (di luar ada pengemis)
Kere lumpuh lan wuto (pengemis lumpuh dan buta)
Sambat ngelak lan luwih (mengeluh haus dan lapar)

(Ibu):
Le thole ndang mriniho (Nak kesinilah)
Sego iwak lan banyu (nasi lauk dan air)
Lan maneh kandanono (Dan beritahu)
Saben Minggu kon mrene (Setiap Minggu suruh ke sini)...........



Lagu dengan bahasa daerah Jawa ini dulu sering saya dengar saat masih di sekolah TK, yach tahun 1969-an. Mudah dihafal dan tidak terlalu sulit. Karena dalam lagu ini jumlah konsonan "R"-nya relatif sedikit, konsonan "R" menjadi momok bagi anak-anak balita yang kesulitan mengucapkannya, sehingga lagu ini tidak terlalu banyak hambatan. Pinter juga ya pencipta lagu ini.

Saya membuat gambaran sendiri saat itu, seorang pengemis tua dengan tongkat dan topi ala pak tani, sedang berada di depan pintu rumah. Bajunya compang camping, suaranya parau karena haus mungkin?. Dan si tole itu adalah saya, yang kemudian meminta uang kemudian meberikannya kepada pengemis tua itu. Ibu malah memberikan nasi dan lauk dan masih berpesan bahwa setiap Minggu disuruhnya pengemeis itu ke rumah. Senang sekali saya seandainya benar menjadi pemeran dalam lagu ini.




Secara spontanitas dalam keadaan yang nyata , saya jadi tak pernah menolak ada pengemis di rumah, dan ibu juga. Tetapi yang diberikan kepada pengemis, lain dari yang ada di lagu itu karena ibu memberikan secangkir beras, suatu hari juga diberinya pengemis itu baju-baju yang masih layak pakai. Hmm betapa dahsyatnya lagu ini dalam memebentuk rasa sosial , utamanya kepada anak-anak. Mungkin demikianlah yang diharapkan oleh sang pencipta lagu ini.

Sekarang, saya sering mengamati juga seorang perempuan tua renta tetapi bukan pengemis, tetapi ibu tua ini senang mencari kayu bakar bekas buangan dari orang-orang membangun rumah atau ranting-ranting kayu yang sempal karena angin. Tak terbayang bila nenek ini bisa membawa berkilo-kilo kayu yang bisa saja terdiri dari balok kayu berbagai ukuran, atau ranting yang bentuknya tidak beraturan hanya dengan seutas selendang kusam.
Tangannya yang tinggal tulang dan kulit malah keliahtan kokoh, sekokoh semangat nenek ini untuk berjuang memperpanjang hidupnya. Apalagi bila melihat raut wajahnya yang berkerut-kerut dimakan usia dengan setia tetap menggunakan kerudung lusuh. Sepintas begitu saya berusaha mendekat , tangannya kasar, kakinya apalagi karena tak pernah bersendal, kakinya telah tebal ditempa jalanan panas membakar.

Hari Minggu, saya sengaja menanti kedatangan nenek ini di depan rumah. Karena saya merasa begitu kagum dengan perjuangan hidupnya, setua itu, dengan postur tubuh yang membungkuk tanda tulang-tulangnya telah membentuk lengkungan seperti udang, tua sekali. Hal yang lain yang begitu saya kagumi, nenek ini tidak pernah meminta. Sehingga saya, isteri dan anak-anak justru selalu ingin memebrikan sesuatu yang mungkin bermanfaat untuknya.

Begitu bayangan saya melambung kepada hal yang sangat diharapakan oleh sebagian rakyat kita "KEADILAN SOSIAL", begitu jauh jaraknya untuk menyentuh keberadaan sosial ekonomi nenek tua ini. Nenek ini pasti tidak mendapat bagian kue kesejahteraan, seperti politisi Senayan yang sebenarnya juga mewakili nenek ini, kasus korupsi di kementrian dan lembaga-lemabaga "basah" lainnya. Jauh...jauh sekali. 

Saya yakin nenek tua ini tidak akan tahu hiruk pikuk itu, adakah sebagian haknya yang terampas? hingga karena keadaan setua itu terus berjuang dengan mencari kayu bakar dan konon setelah menumpuk kayu-kayu itu dijualnya. Ada yang salahkah dalam pengelolaaan kekayaan alam dan pendapatan negara di negeri ini? Lalu apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang pintar, politikus yang sering kali membuat gaduh? 

Ya tentunya masih ada orang-orang yang tak seburuk itu di negara Pancasila ini. Dan kelapangan hati untuk saling memberi kepada yang membutuhkan, masih ada! 

Mudah-mudahan saya masih diberi keleluasaan untuk menanti wanita kuat ini meski hanya bicara dan bercanda dan mendoakan agar keteguhan hatinya ini didengar oleh Allah dan kemudian Dia memberikan yang terbaik. Amin***Nangkris

Selengkapnya »»  

Kamis, 08 September 2011

Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Singkat?


Ketika melayang dari bulan ke bumi pada 1969, astronaut Alan Bean, yang berada dalam modul Apollo 12, merasakan efek aneh. "Perjalanan pulang terasa lebih singkat," ujar Bean.


Cerita efek ganjil ini terjadi tak hanya di antariksa. Di bumi, manusia kerap merasakan hal yang sama. Perjalanan menuju suatu tempat terasa lebih lama ketimbang perjalanan kembali ke rumah, meski lintasan yang ditempuh sama jauhnya. Efek perjalanan pulang ini ternyata berhubungan dengan memori dan pengalaman manusia.


Pendapat umum mengatakan manusia mencoba mengenali daerah yang belum pernah ditempuh. Otak merekam tanda-tanda pengenal di sepanjang jalan, seperti monumen, pohon tinggi, bangunan, dan rambu lalu lintas. Pengalaman inilah yang dibangkitkan saat perjalanan pulang sehingga menciptakan efek perjalanan pulang. Namun psikolog dari Tilburg University, Belanda, Niels van de Ven, membantah pemahaman tersebut.


"Efek ini juga terjadi saat saya berkendara menggunakan pesawat. Ketika melongok ke jendela, tak ada yang bisa dikenali," ujar Van de Ven.


Berbekal keraguan atas anggapan umum tersebut, ia melakukan eksperimen yang mengeksplorasi perasaan tersebut. Ia meminta dua kelompok pesepeda menempuh perjalanan menuju sebuah tempat.

Saat perjalanan pulang, Van de Ven membagi pesepeda dalam dua kelompok. Satu kelompok diminta pulang dengan menempuh lintasan yang sama, sedangkan kelompok yang lain menempuh lintasan berbeda tapi memiliki jarak yang sama. Jika pendapat umum benar, kelompok yang menempuh lintasan pulang yang sama dengan perjalanan pergi harus merasakan waktu tempuh lebih singkat.


Hasil eksperimen berkebalikan dengan pendapat umum. Kedua kelompok sama-sama merasakan perjalanan pulang terasa lebih cepat.

Dari hasil tersebut, Van de Ven sampai pada penjelasan lain atas efek perjalanan pulang. Menurut dia, manusia terlalu optimistis saat memulai bepergian ke suatu tempat. Saat menempuh perjalanan pulang, manusia menduga perjalanan lebih panjang. "Saat melangkah pulang, manusia berpikiran perjalanan akan jauh lebih lama," Van de Ven menambahkan.


Praduga sebelum perjalanan tersebut ternyata sangat menentukan perasaan manusia selama menempuh perjalanan. Seorang optimis justru merasakan perjalanan pergi membutuhkan waktu lebih lama, sedangkan bagi seorang pesimis perjalanan pulang terasa lebih cepat.


"Efek ini timbul akibat harapan, apa yang Anda pikir akan terjadi," ucap psikolog lain dari Elizabethtown College, Michael Roy.

Ia merasa kesimpulan yang didapatkan dari eksperimen terbaru ini tak akan diterima luas oleh psikolog lainnya. Karena itu, ia mengakui temuan baru ini bukan penjelasan tunggal atas efek perjalanan pulang.l NPR | ANTON WILLIAM
Selengkapnya »»  

Selasa, 06 September 2011

Ini Dia Tas Termahal Di Dunia




Jakarta - Tas dari rumah mode Hermes seringkali disebut sebagai tas paling mahal. Namun ternyata masih ada beberapa yang jauh lebih mahal. Seperti yang dikutip dari Forbes, berikut lima tas paling mahal di dunia.

1. 1001 Night Diamond Purse
Aksesori fashion yang satu ini diklaim sebagai tas tangan termahal di dunia. Tas yang terbuat dari emas 18 karat dan dihiasi 4.517 berlian itu diberi harga 2,35 juta poundsterling atau sekitar Rp 34 miliar. Berlian yang menghiasi tas tersebut terdiri dari 105 berlian berwarna kuning, 56 berwarna pink dan 4.356 berlian putih. Berat berlian di tas itu seluruhnya 381,92 karat.

2. Chanel 'Diamond Forever' Classic Bag
Tas keluaran rumah mode Chanel ini diluncurkan pada Desember 2006. Tas dengan model klasik ini terdiri dari 334 berlian dengan total 3,56 karat dan 18 karat emas putih. Tali tas juga dilapisi emas putih. Tas yang dijual dnegan harga US$ 261 ribu atau sekitar Rp 2,2 miliar itu hanya tersedia sebanyak 13 buah di seluruh dunia, dan lima diantaranya dijual di Amerika Serikat.

3. Hermes Matte Crocodile Birkin Bag
Jika biasanya harga tas Birkin Hermes sekitar US$ 20 ribu, namun versi yang ini dilelang dengan harga US$ 120 ribu atau sekitar Rp 1 Miliaran. Selain terbuat dari kulit buaya asli, tas ini dihiasi dengan berlian 10 karat.

4. Lana Marks Cleopatra Bag
Tiap tahunnya, brand Marks selalu merilis satu tas genggam Cleopatra untuk retail. Namun beberapa tahun lalu, Marks meluncurkan Cleopatra clutch bag edisi terbatas yang terbuat dari kulit buaya berwarna perak metalik. Pada bagian atas tas bertahtakan 1500 berlian hitam dan putih serta 18 karat emas putih. Tas tersebut dihargai US$ 100 ribu atau sekitar Rp 853 juta.

5. Leiber Precious Rose
Tas yang bernama 'The Precious Rose' ini memang sangat berharga. Dibuat dalam bentuk bunga mawar, tas ini dihiasi 1.016 berlian dengan total 42,56 karat, 1.169 batu safir berwarna merah muda dan 800 kristal tourmalines. Tas ini diberi harga US$ 92 ribu atau sekitar Rp 784 juta.

(eya/fer)




Selengkapnya »»  

Ini Tanda Kekasih Ingin Hubungan Berakhir

Jakarta - Sikap pasangan tak lagi seromantis dulu, atau bahkan dia berusaha menghindari Anda? Mungkin si dia sedang mempertimbangkan rencana untuk memutuskan tali asmara.

Jika kekasih menunjukkan tanda-tanda yang dilansir What Do Men Really Think ini, ada kemungkinan besar dia ingin putus dari Anda.

1. Jarang Mengajak Pergi Berdua
Kapan terakhir kali Anda dan kekasih pergi menghabiskan waktu berdua? Jika hingga satu atau dua bulan ini tak ada ajakan dari si dia untuk bertemu, bisa jadi sang kekasih memang ingin mengurangi kebersamaan dengan Anda. Ini merupakan salah satu tanda yang kuat, dia ingin mengakhiri hubungan. Bagi pria yang tidak ingin mengucap kata 'putus', biasanya dia akan membuat kekasihnya bosan sehingga wanitalah yang berinisiatif memutuskan hubungan.

2. Tidak Menghubungi Sesering Biasanya
Jika belakangan ini ia tidak pernah menghubungi, dan selalu Anda yang punya inisiatif untuk meneleponnya lebih dulu, maka perilaku ini patut dicurigai. Mengurangi frekuensi menelepon atau mengirim pesan teks secara mendadak, juga bisa menjadi tanda ia ingin putus hubungan. Meskipun karena alasan sibuk dengan pekerjaan, pria yang benar-benar mencintai kekasihnya pasti akan menyempatkan waktu sesempit mungkin untuk menghubunginya.

3. Lupa Memberi Ucapan di Momen Spesial
Pria memang kadang tidak bisa mengingat hal-hal kecil, termasuk tanggal-tanggal khusus. Tapi jika dia melupakan tanggal jadian, pertama kali kencan bahkan lupa hari ulang tahun pasangannya, mungkin memang ia ingin menghapus kenangan Anda dari pikirannya.

4. Tidak Segera Membalas Pesan Teks, E-mail atau Telepon
Perlu waktu dua-empat jam, bahkan seharian untuknya membalas pesan dari Anda? Ada kemungkinan dia memang tidak berniat membalasnya. Jika dia beralasan baru melihat pesan atau missed-call dari Anda, bisa jadi benar, tapi bisa juga tidak. Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan menanyakan langsung padanya.

5. Lebih Banyak Menghabiskan Waktu dengan Teman
Dia selalu punya alasan untuk menghindari bertemu Anda. Salah satunya dengan berkumpul bersama teman-teman. Bila Anda sering mendapati dia lebih banyak bertemu dengan teman atau sahabatnya, besar kemungkinan dia sudah kurang nyaman berada di dekat Anda.

6. Tingkat Kedekatan Fisik dan Emosional Berkurang
Pria biasanya akan berusaha sedekat mungkin dengan wanita yang ia cintai. Jika hal ini sudah jarang ditemui pada kekasih Anda, atau ia berusaha menghindari kontak fisik saat bersama, mungkin sudah saatnya menanyakan perasaan dia yang sebenarnya terhadap Anda.

7. Tidak Peduli Jika Anda Belum Menghubunginya Dalam Waktu Lama
Coba mengetesnya, dengan tidak menghubungi kekasih Anda selama beberapa hari; baik lewat telepon, online chat, jejaring sosial maupun e-mail. Lihat reaksinya, jika si dia tidak menanyakan apapun, berarti dia tidak merasa terganggu dengan perubahan sikap Anda ini.

8. Selalu Cari Alasan untuk Bertengkar
Dalam situasi apapun, ada saja yang dia lakukan untuk memancing pertengkaran tapi tidak berusaha mencari solusinya. Jika ini terjadi setiap kali Anda bertemu, merupakan pertanda jelas kalau dia ingin hubungan kalian berakhir.

Perlu diingat, delapan tanda di atas merupakan sebuah kecenderungan, bukan hal yang pasti. Meski begitu, bukan berarti Anda bisa mengabaikan tanda-tanda tersebut. Bagaimanapun juga, sebuah hubungan asmara yang sehat harus diikuti dengan komunikasi yang baik, saling pengertian dan perhatian.

Jika Anda dan pasangan tidak lagi mengalaminya, mungkin hubungan yang terjalin selama ini sedang berada di ambang kehancuran. Cara terbaik untuk mendapatkan kepastian adalah dengan menanyakannya langsung pada kekasih. Tapi jangan tunjukkan sikap benci, menghakimi atau menuduh. Pilih tempat dan waktu yang tepat, dimana kalian berdua sedang dalam keadaan santai.

(hst/hst)


Selengkapnya »»  

Selasa, 30 Agustus 2011

Perihnya Merasakan PHK


Pagi ini saya pertama masuk kerja sebagai penyiar sebuah radio swasta nasional. Tidak terbayang saya akan menang dalam kompetisi untuk menjadi penyiar menyisihkan 3 pesaing. Meski saat menghitung-hitung probabilitas saya yakin akan mengalahkan mereka. Saya selalu menyapa para pendengan, terutama yang sudah di list oleh programer untuk orang-orang tertentu mesti selalu disapa melalui udara. Mereka layak untuk selalu disapa dan dihadiahi lagu ukhusus, karena mereka merupakan pendengar yang selalu memborong kupon pilihan pendengar yang otomatis berkontribusi dalam pendapatan perusahaan broadcasting ini.

Saya membawakan acara Pesona Pagi, menyapa pendengar yang siap berangkat kerja dan siswa yang juga akan bernagkat sekolah. Operator telah menata musik yang akan diputar selama kurun waktu 1 jam kedepan dipotong iklan. Lagu demi lagu saya putar hingga tak terasa siaran relay harus disiapakan dari RRI Jakarta guna mengikuti warta berita jam 07.00 WIB. Tetapi sayang , sebagai penyiar baru saya sempat dimarahi langsung pak Direktur

" Kamu koq masih panggung sandiwara , ini saatnya warta berita" kata boss saya itu.

Maklum lagu terkahir yang saya putar adalah Panggung Sandiwaranya God Bless yang dibawakan Achamd Albar...ya pengalaman pertama dimarahi boss...

Tak ada perjanjian akad khusus  pengusaha dan saya selaku tenaga kerja saat itu. Ya otomatis tidak ada peraturan tentang hak saya dan kewajiban saya, semua mengalir begitu saja. Saya menyiarkan acara Pesona Pagi, dan membantu administrasi di kantor.  Gajinyapun juga tidak standar, tidak amsalah menurut saya, karena saya sudah bisa menyalurkan hobbi koleksi kaset , karena saat itu belum ada CD kale...yang ada adalah long play (LP) alias piringan hitam...,salam-salaman dan kontak-kontakan saat di SMA dulu.Apalagi saya sempat frustasi karena gagal kuliah di fakultas pertanian universitas swasta di Malang. Saya gagal masuk universitas negeri dengan jurusan yang sama , sehingga perkuliahan saya terseok-seok. Sempat menganggur 10 bulan sebelum nekad jadi penyiar radio ini.

Suatu waktu ada kakak kelas SMAku yang telah bekerja di sebuah perusahaan umum bidang telekomunikasi menghubungi saya di kantor. Ada lowongan. Terpanggil untuk mendapatkan status yang pasti seperti teman saya yang sudah bekerja, saya coba mendaftar. Namun tentunya saya harus minta ijin ke Direktur Perusahaan Radio Swasta Niaga ini, tidak tanggung-tanggung, saya minta ijin 3 hari.Karena testnya nanti akan dialkaukan secara bertahap kata teman saya. Saya menulis surat ijin lagi 3 hari.Namun apa hendak dikata , ijin saya molor hingga 7 hari kerja. Rupanya ketidak hadiran saya membuat radio ini menjadi kolong koming alias nyaris berantakan, karena banyak penggemar saya selalu menanyakan kehadiran saya (ceileh..)

Naas...bulan ke 3 masa kerja saya , berakhir pada secarik kertas yang berperihal : Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Saat itu saya belum tahu tentang aturan ketenagakerjaan , seperti akhirnya tdimuat secara tersurat dalam UU no 13 tahun 2003, pasat 1 ayat 15 yang disebutkan :hubungan kerja adalah hubungan hukum yang timbul antara pekerjadan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai ciri-ciri adanya upah, adanya perintah dan adanya pekerjaan. Terlalu berat bagi saya untuk mengerti hal semacam itu. Apalah itu aturan , yang penting saat dalam kegundahan itu saya bisa menghibur diri dengan bercuap cuap di depan mic.Saya dapat pesangon yang tak tahu dasar besarannya berapa, tapi lumayan untuk biaya transport selama mengikuti test itu.

Ada hal menarik dan hikmah mendalam dalam perjalanan ini. Saya semakin mendekatkan diri pada Allah. Agar kegamangan saya setelah di PHK dapat terobati dengan diterimanya saya di perusahaan umum ini (sekarang menjadi sebuah BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi). 5 orang mengikuti test, dalam tahapan seleksi secara berangsurangsur rekan-rekan saya tereleminasi, hingga tinga kami berdua untuk mengikuti test akhir "kesehatan".Rupanya Allah mendengan doa saya, saya satu-satunya yang lolos dalam tes terakhir. 

Namun saya sangat merasakan saat menunggu pengumuman, uang sudah tidak punya karena dari radio saya sudah tidak mendapat gaji. Mana bertepatan dengan hari raya, punya pacar cantik tetapi dompet "gelondangan"...bayangkan saja. Biasanya kami berdua sepulang dia sekolah  selalu mentraktir baso atau rujak manis. Karena proses penyaringan tes ini begitu panjang , sehingga semua kebimbangan antara takut kehilangan pacar, kehilangan kepercayaan teman2 saya dan yang paling saya galaukan justu kehilangan "masa depan"!

Ya , setidaknya saya sudah merasakan betapa PHK merupakan kata-kata yang tidak berpihak pada perikemanusiaan menurut saya saat itu. Saya tidak dapat mengumpat siapa-siapa, karena saat itu saya belum megerti perangkat perundang-undangan yang ada. Untuk saya tidak larut dengan keemosialan hingga sampai berniat anarkis kepada perusahaan radio, meski saat itu kadang timbul sikap anak muda saya untuk berbuat itu. Yang selalu saya ingat adalah pesan Ibu"Sekali kamu berbuat nekad (anarkis) , itu menghadang masa depanmu" begitu Ibu saya.

Alhadulillah saya sudah mendapat "pegangan hidup" sebagai karyawan. Namun saya terus mencoba belajar dan belajar untuk mengetahu minimal apa sebenarnya hubungan karyawan dan perusahaannya. Ada aturan yang jelas tentang hak dan kewajiban masing-masing yang kadang relatif berbeda kepentingan. PHK akan menjadi kalimat kasar bagi tenaga kerja dan dapat menyengsarakan.Makanya saya sependapat dengan pemerintah bila berharap jangan sampai terjadi PHK***Nangkris.
Selengkapnya »»  

Senin, 29 Agustus 2011

Lain Pasar Tradisional, Lain Pula Mall

Pemandangan gedung-gedung bertingkat yang dihuni para tenan bermodal besar merupakan pemandangan khas kota besar, tak kecuali Surabaya. Beranjak dari lantai ke lantai, mencari kebutuhan, ternyata tak semudah yang kita bayangkan saat kita berbelanja di toko-toko biasa. Lebih banyak pilihan, lebih menguras tenaga karena harus berekplorasi mencari barang yang kita sasar dan jelas lebih banyak menguras kantong!

Para konsumen dibius hiruk pikuk harga yang "dibanting", karena yakin barang yang ada di mall besar ini jelas berkualitas. Ada seperangkat kitchenset membuat mata saya tergoda, lengkap dengan aksesoris cangkir bermotif Tiongkok antik dan sedikit unik, ya kami hanya cukup memandangi saja meski ingin memiliki.

Melangkah lagi, ada SPG yang menawarkan kursi terapi kesehatan, apaboleh buat kami mencoba dengan setting timer pada angka 15 menit, lumayan. Merk yang dibawa dari negeri tirai bambu itu dipatok dengan harga 17 juta, bila diangsur dengan kartu kredit bank tertentu dibayar tanpa bunga! 

Lagi, mengantar My Son 2 ke "bedak" sepatu. Watchout, Kickers..jilihan saya patuhnya merk Pakalolo casual, yach karena suka model dan harganya berada pada setrata "medium" lagian toh fungsinya sama?, kualitasnya juga lumayan, si My Son 2 gak jadi beli karena lebih terarik pada T shirt saja.


Itulah bedanya, berbondong-bondong ke mall memnag harus perlu persiapan fisik dan mental. Kuat berjalan-jalan dari counter ke counter dan tak kalah paling pentingnya yaitu siap "kocek". Tetapi pengaruh ini telah merasuk kepada masyarakat yang selama ini sangat mengagungkan jasa penjahit konvensional. Seminggu sebelumnya sudah siap dengan kain lakaran yang kemudian dijahitkan baik baju dan celana. Proses ini memang relatif terjangkau. Namun semua telah terpengaruh pergeseran ini, meski masih ada karena suatu alasan tetap menggunakan jasa penjahit.



Tidak masalah, asal semua itu dialkukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, tidak dilebih-lebihkan dan diada adakan (ach bahasa apa pula ini?) Janganlah melihat kaum perlente yang belanjanya tidak harus menunggu hari raya atau hari hari tertentu yang belanjanya juga tidak di dalam negeri, minimal Sinagpore dan negara mode lainnya. Namun semua itu akhirnya kembali ke hati, belanja di pasar tradisional, mall dan luar negeri terpulang dari kepuasan yang ada dalam hati, karena kebahagiaan itu sejatinya ada di situ!***Nangkris
Selengkapnya »»  
Terimakasih Atas Kunjungannya. Semoga Bermanfaat