NKN NEWS STICKER

Akibat imbas debu vulkanik gunung Kelud, di Mojokerto kini langka masker. Bahkan dibeberapa apotik dan swalayan juga habis

Senin, 19 September 2011

Buah 'Putih' Usir Risiko Stroke


 
Monday, 19 September 2011

Peribahasa tua bahwa "sebutir apel sehari dapat menjauhkan dokter", menurut sebuah studi ilmuwan Belanda, ternyata layak diikuti. Para peneliti menemukan bahwa memakan banyak buah dan sayuran berdaging putih, seperti apel dan pir, dapat melindungi Anda dari serangan stroke.

"Untuk mencegah stroke, orang mungkin harus mengkonsumsi buah dan sayuran putih dalam jumlah yang cukup," kata Linda M. Oude Griep, peneliti utama studi itu dari Wageningen University di Belanda. "Makan sebutir apel sehari adalah cara yang mudah untuk meningkatkan asupan buah dan sayur putih."

Meski riset sebelumnya telah memperlihatkan manfaat kesehatan yang positif dari asupan buah setiap hari, studi baru ini menunjukkan adanya hubungan antara risiko stroke dan buah serta sayuran berwarna tertentu. Para ilmuwan meminta bantuan 20 ribu orang untuk mengetahui apa yang mereka makan selama setahun sebelumnya. Sebagian besar relawan berusia 41 tahun dan bebas dari penyakit kardiovaskuler pada awal studi.

Selama 10 tahun berikutnya, 233 orang mengalami stroke. Peneliti menemukan bahwa risiko terkena stroke lebih rendah 52 persen pada orang yang banyak mengonsumsi sayur dan buah putih dibanding orang yang sedikit makan buah putih itu.

Tim peneliti nutrisi manusia itu mengklasifikasikan buah dan sayur menjadi empat kelompok warna, yaitu jingga atau kuning, hijau, merah atau ungu, dan putih. Buah dikelompokkan berdasarkan warna daging dan bukan kulitnya. Meski berwarna merah, apel masuk kelompok putih.
Warna buah dan sayuran itu merefleksikan kandungan senyawa tumbuhan, seperti karotenoid atau pigmen organik, dan flavonoid.

Apel dan pir ada kemungkinan menurunkan risiko stroke karena mereka kaya akan serat dan flavonoid antioksidan yang disebut quercetin. Makanan lain yang diklasifikasikan putih adalah pisang, kembang kol, dan mentimun.

Studi itu menyatakan bahwa buah dan sayur hijau, jingga, serta merah tidak mempengaruhi risiko stroke para relawan. Namun Griep mengatakan orang tak perlu menyingkirkan buah-buahan itu karena dianggap kurang bermanfaat. "Buah dan sayuran dari kelompok warna lain mungkin memberi perlindungan terhadap penyakit kronis lain," ujarnya. | LIVESCIENCE
Selengkapnya »»  

Sabtu, 17 September 2011

Amati Leukemia pada Anak


Penyakit leukemia bisa diobati dengan masa pengobatan yang panjang dan harus di bawah pengawasan dokter yang ketat. Jika anak yang mengidap leukemia akut tak segera ditangani, dalam hitungan minggu dia bisa menemui kematiannya. Sedangkan anak yang mengidap leukemia kronis, jika tak segera ditangani, biasanya dalam hitungan tahun "malaikat maut" bisa menjemputnya. 


Penanganan anak yang mengidap leukemia berbeda-beda, bergantung pada tingkat dan tipenya. Biasanya, untuk mengobati penderita leukemia akut dan kronis, pasien harus menjalani kemoterapi (penyinaran) dan diberikan obat antikanker (stitostatika). Proses pengobatannya harus di bawah pengawasan dokter secara ketat. Sebab, obat stitostatika adalah obat berdosis tinggi yang bisa mengganggu organ tubuh lainnya, seperti ginjal, hati, dan jantung. 


Peran dokter di sini merekomendasikan obat-obat lain yang dibutuhkan untuk menangkal efek samping dari obat antikanker tersebut. Selain itu, pasien bisa menjalani metode pengobatan lainnya, seperti operasi atau transplantasi sumsum tulang.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika anak menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:


·  Kulit anak pucat kekuningan
·  Sesak napas
·  Timbul bercak-bercak biru pada kulit
·  Nyeri pada tulang
·  Badan demam (tidak jelas penyebabnya)
·  Lesu tidak bergairah
·  Perdarahan (mimisan) karena menurunnya kadar trombosit 
Sumber:korantempo 17/9/2011
Selengkapnya »»  

Kuli Bangunan Yang Kini Menjadi "Polantas"


Kalau saja Anda sering melewati jalan alternatif arah Surabaya - Jombang lewat kota Mojokerto, setelah diperempatan jalan ada seorang "polantas" yang selalu sigap mengarahkan lalu lalang kendaraan. Meskipun di perempatan tersebut sudah ada trafic light namun polantas sebut saja Parto (bukan nama sebenranya) hampir setiap hari selalu menjalankan tugasnya dengan penuh kedisplinan.

Polantas yang satu ini memang tidak punya pangkat polisi layaknya , apalagi jabatan, bagi dia tak penting. Tetapi sekilas orang melihatnya memang seperti polisi lanlu lintas. Sepatu jinggel khas polantas, rompi bertuliskan polisi. Tak lupa pula dicangklongkannya sempritan yang merupakan modal utama seorang poilisi lalu lintas. Setiap orang yang melintas eberapa ada yang membuka kaca mobil dan mengulurkan uang yang kemudian diterimanya. Sebenarnya tidak memberipun polantas ini tidak akan "menilang".

Dengan gaya khas polisi lalu lintas Parto memberikan isyarat begitu serius dan semangat bahkan lebih dari seorang polantas beneran. Sesekali apabila ada orang yang kemungkinan pernah dikenal seperti saya , maka dia akan mengangkat tangannya tanda memberikan hormat layaknya bintara kepada perwira! Setiap hari dia lakukan pekerjaan ini tanpa ada yang memberikan tugas ataupun jam kerja, tetapi hampir seharian Parto "berdinas" diperempatan Sooko ini.

Konon, sebelumnya Parto adalah seorang kuli banguanan pembuatan jembatan di daerah Trowulan, dimana jembatan ini merupakan kunci kelancaran daerah menuju Jombang dan ke Surabaya. Karena jembatan ini menjadi momok lalulintas karena sempit. Di situlah saat pembangunan jembatan ini Parto bekerja. Sesekali apabila istirahat dia ikut membantu para pekerja yang menyetop dan mengatur kendaraan yang melintasi jembatan darurat itu. Pada umumnya para pengendara merasa terimakasih atas bantuan pengatur jalan yang melintasi jembatan sehingga hampir semua pengendara memberikan uang receh maupun kertas kepada pengatur jalan ini. 

Hitung punya hitung Parto mulai mengkalkulasi hasil menjadi kuli bangunan dengan pengatur jalan. Setelah dikalkulasi ternyata hasilnya lebih banyak menjadi seorang pengatur jalan. Akhirnya profesi itu keterusan. Tetapi Parto terus melakukan improvisasi untuk minimal menyamai profil seorang polantans., kecuali pistol. Polisi lalulintas asli juga merasa terbantu dengan keberadaan Parto. sehingga mungkin saja baju, sepatu dan rompi bekas atau bisa jadi juga baru Parto mendapat jatah dari itu. Uniknya sebelum kini memiliki sepeda motor , Parto menghias sepeda ontelnya seperi mobil Brigade Mobil (BM) polantas! seru enggak?

Mudah2an dengan keteguhan hatinya sebagai pembantu polisi lalulintas , Parto mendapatkan nilai finansial yang cukup hingga dapat mensejahterkan keluarganya. Konon disamping mendapatkan "fee" dari pengguna jalan , Parto juga mendapatkan "angpou" dari anggota polantas! sudah sepantasnya! Apabila Anda penasaran yang berada di luar kota, apabila Anda dari arah Surabaya cobalah lewat arah kota Mojokerto menuju jalan RA Basuni, insyaallah Anda akan bertemu Parto!***Nangkris 


Selengkapnya »»  

Kamis, 15 September 2011

Kabel Terkecil di Dunia

Minggu, 13 Februari 2011 - Dunia siap untuk menuju sebuah peradaban dimana penggunaan nano partikel tidak dapat lagi dipisahkan dari kebutuhan manusia.

Cover jurnal ilmiah Science tanggal 4 Februari 2011 menampilkan potret mikroskop elektron dari beberapa kawat nano. Berapa ukuran kabel ini sehingga hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron? Diameternya hanya 10-50 nanometer, sedangkan kabel listrik biasa berdiameter 1, 1.5 atau 2 mm. Dan ini menjadi ukuran raksasa bagi kabel terkecil kita. Coba saja gunakan rumus luas lingkaran untuk menghitung luas penampang kedua jenis kawat ini dan bandingkan. Kamu akan menemukan kalau 10 miliar kabel nano yang ditumpuk baru berukuran satu kabel listrik kecil. Setara dengan jumlah kotak bungkus iPhone yang digunakan untuk menutupi seluruh kota Jakarta. Wow!

Jika anda perhatikan potret tersebut, anda bisa lihat bahwa kawat itu tidak mulus. Dia lebih mirip bantal guling yang empuk. Warna pink tersebut merupakan pencitraan buatan karena aslinya warna tidak ada dalam ukuran sekecil ini. Panjang gelombangnya lebih besar dari ukuran kabelnya sendiri. Kita tahu bahwa warna adalah gelombang elektromagnet. Sementara, tonjolan-tonjolan itu adalah molekul seng oksida.

Kabel nano ini menjadi tanda siapnya dunia menghadapi era elektronika miniatur dan kedokteran nano. Tanggal 17 Juli 2011 nanti, penemuan baru Sekolah Teknik dan Ilmu Bahan Institut Teknologi Georgia ini akan disajikan dalam Konferensi Penelitian Teknologi Nano Penyembuhan Kanker yang diselenggarakan Lembaga Penelitian Gordon. Kabel nano sendiri hanyalah satu dari banyak sekali penemuan yang akan diungkapkan dalam konferensi tiga hari ini. Temanya saja sudah “The Frontier of Science.”
Ingin tahu lebih banyak tentang konferensi ini, kunjungi saja situs resminya www.grc.org
Sumber artikel:http://www.faktailmiah.com/2011/02/13/kabel-terkecil-di-dunia.html
Selengkapnya »»  

Rabu, 14 September 2011

Menjelang Lahir, Bayi Merasakan Sakit



Kapan janin mulai merasakan sakit, membedakan antara sentuhan dan nyeri? Pertanyaan itu mungkin akan segera terjawab dengan riset yang dilakukan sejumlah peneliti Inggris. Studi tentang perkembangan bayi itu mengindikasikan bahwa sebagian besar bayi mulai merasakan sakit beberapa pekan sebelum mereka dilahirkan.



Temuan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan penanganan klinis bagi bayi yang lahir prematur. "Bayi dapat membedakan rangsang menyakitkan sebagai sesuatu yang lain daripada sentuhan umum pada masa kehamilan 35-37 pekan, beberapa saat sebelum bayi itu lahir," kata Lorenzo Fabrizi, peneliti studi di University College London, Inggris.



Para ilmuwan itu mempelajari 46 bayi di Rumah Sakit Elizabeth Garrett Anderson Wing di Bloomsbury, London. Karena 21 dari 46 bayi tersebut lahir prematur, peneliti bisa memantau perbedaan tahap aktivitas otak sejak bayi berusia 28 pekan dengan bayi yang lahir normal pada 37 pekan. Umumnya bayi lahir pada masa kehamilan menginjak 40 pekan, tapi bayi yang lahir pada usia 37 pekan telah dianggap cukup umur.



Untuk mengetahui apakah bayi-bayi itu mampu merasakan nyeri, para peneliti mengandalkan rekaman aktivitas otak menggunakan electroencephalography. Para peneliti mencatat aktivitas listrik otak bayi ketika bayi itu menjalani heel lance, prosedur rutin pengambilan sampel darah pada kaki bayi. Perubahan aktivitas otak umum menjadi reaksi otak yang terlokalisasi menunjukkan bayi mengalami rasa nyeri ketika ditusuk dengan jarum.



"Tentu saja bayi tak bisa memberi tahu kita apa yang mereka rasakan sehingga mustahil mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh bayi," kata Fabrizi. "Kami tidak dapat mengatakan bahwa sebelum perubahan aktivitas otak ini, mereka tidak merasa sakit."

 
Para ilmuwan mencatat, ketika otak bayi berkembang, lonjakan aktivitas saraf bergeser dari aktivitas yang lebih umum menjadi lebih spesifik. Hal itu membuat bayi dapat mengembangkan respons seperti orang dewasa yang lebih spesifik terhadap masukan indra tertentu.l LIVESCIENCE
Sumber: korantempo.
Selengkapnya »»  

Sekilas Negara Angola, Negara Asal Miss Universe 2011

Pengantar : Leila Lopes (25th) dari Angola terpilih menjadi Miss Universe 2011, coba kita simak perempuan cantik dan cerdas sedunia berasal dari sebuah  negara yang luas negaranya  2x pulau Borneo merupakan negara tempat terjangkitnya berbagai penyakit menular....***Nangkris





Republik Angola adalah sebuah negara yang terletak di Afrika bagian barat daya. Angola berbatasan dengan Namibia, Republik Demokratik Kongo, Zambia dan Samudra Atlantik. Cabinda, sebuah provinsi Angola berbentuk eksklave, berbatasan dengan Republik Kongo. Luas wilayah Angola hampir dua kali luas pulau Borneo; menempati peringkat ke-22 sedunia (setelah Niger dan sebelum Mali). Negara ini merupakan salah satu produsen kopi utama di dunia dan termasuk negara terkaya di Afrika berkat sumber alamnya, terutama bijih besi, intan, dan tembaga.

Pemukim awal daerah ini ialah suku pemburu-pengumpul Khoisan. Secara besar-besaran mereka digantikan oleh suku Bantu selama migrasi Bantu. Di Angola hari ini, Portugal singgah pada 1483 di Sungai Kongo, di mana Negara Kongo, Ndongo dan Lunda berada. Negara Kongo membentang dari Gabon modern di utara sampai Sungai Kwanza di selatan. Pada 1575 Portugal mendirikan koloni Portugis di Luanda yang berbasis pada perdagangan budak. Secara bertahap bangsa Portugis mengambil kontrol di garis pantai sepanjang abad ke-16 melalui serangkaian perjanjian dan perang. Mereka membentuk koloni Angola. Bangsa Belanda menduduki Luanda antara 1641-48, memberikan dorongan untuk negara-negara anti-Portugis.

Pada 1648 Portugal mengambil kembali Luanda dan mengawali proses penaklukan militer di negara Kongo dan Ndongo yang berakhir dengan kemenangan Portugis pada 1671. Kendali administratif penuh Portugis atas urusan dalam negeri tidak terjadi sampai awal abad ke-20. Pada1951 koloni itu dibenahi kembali sebagai provinsi seberang lautan, juga disebut Afrika Barat Portugis. Saat Portugal menolak proses dekolonisasi decolonization 3 gerakan kemerdekaan bermunculan:
Setelah 14 tahun perang gerilya untuk kemerdekaan, dan jatuhnya pemerintahan fasis Portugal oleh kudeta militer, partai nasionalis Angola mulai merundingkan kemerdekaan pada Januari 1975. Kemerdekaan akan didklarasikan pada November 1975. Hampir segera, perang saudara pecah antara MPLA, UNITA dan FNLA, diperburuk oleh campur tangan asing. Pasukan Afrika Selatan bersekutu dengan UNITA dan menyerang Angola pada Agustus 1975 untuk memastikan bahwa di sana tidak ada gangguan (oleh negara Angola merdeka yang baru) di Namibia, yang saat itu masih di bawah pendudukan AfSel (Hodges, 2001, 11). Uni Soviet mulai membantu MPLA dan memberi banyak dukungan ekonomi, sedangkan pasukan Kuba datang untuk mendukung MPLA pada Oktober 1975, membuatnya bisa mengendalikan ibukota, Luanda, dan menjauhkan pasukan AfSel. MPLA mendeklarasikan diri untuk menjadi pemerintahan de facto atas negeri saat sedangkan secara resmi kemerdekaan diumumkan pada bulan November, dengan Agostinho Neto sebagai presiden pertama.

Pada 1976, FNLA dikalahkan oleh gabungan MPLA dan pasukan Kuba, meninggalkan UNITA (dideking oleh Amerika Serikat dan AfSel) dan MPLA yang Marxis berseteru untuk kekuasaan.
Konflikpun pecah, dipicu oleh geopolitik Perang Dingin dan oleh kemampuan kedua partai itu mengakses SDA Angola. MPLA melahirkan pajak atas SDA minyak lepas pantai, sedangkan UNITA mengakses berlian aluvial yang dengan mudah diselundupkan melalui perbatasan negeri itu yang keropos (LeBillon, 1999).
Pada 1991, faksi-faksi itu menyetujui Persetujuan Bicesse yang mengubah Angola menjadi negara multipartai, namun setelah presiden saat itu (dan kini) Jose Eduardo dos Santos dari MPLA memenangkan pemilihan yang diawasi PBB, UNITA menyatakan adanya penipuan dan perang pecah kembali.

Persetujuan damai 1994 (protokol Lusaka) antara pemerintah dan UNITA menyediakan integrasi bekas pemberontak UNITA ke dalam pemerintahan. Pemerintahan persatuan nasional dibentuk pada 1997, namun perang meletus lagi pada akhir 1998, meninggalkan jutaan ribu orang tuna wisma. Presiden José Eduardo dos Santos mencabut fungsi tetap instansi demokrasi akibat konflik.

Pada 22 Februari 2002, Jonas Savimbi, pemimpin UNITA, ditembak mati dan gencatan senjata dicapai antara 2 faksi. UNITA membubarkan sayap bersenjatanya dan menerima peran partai oposisi utama. Meski nampaknya keadaan politik negeri itu akan kembali pulih, presiden dos Santos tetap tidak mengizinkan proses demokrasi tetap terjadi. Di antara masalah utama Angola ialah krisis kemanusiaan yang serius (akibat perang berkepanjangan), berlimpahnya pertambangan, dan aksi gerakan gerilya yang berperang buat kemerdekaan eksklaf Kabinda yang terletak di utara (Frente para a Libertação do Enclave de Cabinda). Akhirnya Angola menjadi salah satu dari sedikitnya negara Afrika yang bergabung dengan blok Soviet dan menjadi komunis, bersama dengan koloni Portugis Mozambique.

Angola, seperti banyak negara Sub-Sahara, ialah tempat berjangkitnya penyakit menular secara perodik. Pada April 2005, Angola di tengah-tengah berjangkitnya virus Marburg yang dengan cepat menjadi tempat berjangkitnya penyakit berdarah terburuk dalam catatan sejarah, dengan lebih dari 237 orang mati dilaporkan dari 261 kasus yang dilaporkan, dan telah menyebar ke 7 dari 18 provinsi dari 19 April 2005.
Sumber :Wikipedia.
Selengkapnya »»  

Selasa, 13 September 2011

Pelajaran dari Universitas Indonesia


Darmaningtyas,
Penulis buku Tirani Kapital dalam Pendidikan (2009)
Gonjang-ganjing masalah tata kelola Universitas Indonesia akhirnya sampai ke Senayan juga. Pada 7 September sejumlah dosen, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, dan alumni UI melakukan dengar pendapat dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat mengenai persoalan tata kelola di UI yang dirasakan tidak transparan serta tidak akuntabel. 

Gonjang-ganjing itu bermula dari pemberian gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis al-Saud pada 21 Agustus 2011. Tapi, menurut Dr Thamrin Tomagola, persoalan pemberian gelar doktor kehormatan itu merupakan proses meletusnya bisul saja. Bisul itu sendiri sudah lama ada di UI, yaitu sejak jabatan rektor dipegang oleh Profesor Dr Gumilar Rusliwa Somantri (September 2007), cuma tidak diketahui publik. Setelah meletus, publik baru mengetahuinya. Kebetulan meletusnya itu berkaitan dengan pemberian gelar doktor kehormatan kepada Raja Arab Saudi tersebut. Karena itu, menurut Dr Thamrin, fokus utamanya bukan "meletusnya bisul" itu, tapi bagaimana menyembuhkan bisul tersebut. 

Bisul yang dirasakan oleh civitas academica UI adalah tidak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan UI sehingga banyak yang tidak tahu ke mana larinya uang kuliah di UI yang amat mahal itu. Kenyataannya, menurut Dr Ade Armando, banyak dosen yang gajinya terlambat dibayar, atau bahkan tidak dibayar, dan pekerja kebersihan di UI hanya dibayar Rp 500-600 ribu per bulan, jauh di bawah upah minimum regional Depok yang sekitar Rp 900 ribu. Dr Thamrin Tomagola menyebutkan jalan-jalan ke luar negeri Rektor UI jauh lebih banyak daripada anggota DPR. 

Persoalan lain adalah pengelolaan keuangan yang disentralisasi di universitas sehingga sering menghambat kegiatan di tingkat fakultas akibat birokrasinya yang berbelit-belit. Sentralisasi di tingkat universitas itu bertentangan dengan spirit perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN), yang ingin memberikan otonomi dalam pengelolaan dan mobilitas dana kampus untuk memperlancar kegiatan kampus. Akhirnya, seperti dituturkan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Dr Ratna Sitompul (5 September), fakultas perlu mengatur strategi kerja sama dengan pihak lain. Kerja sama penelitian dengan JICA senilai Rp 75 miliar, misalnya, tidak masuk ke pembukuan fakultas, tapi masuk ke pembukuan JICA. Sebab, kalau masuk ke pembukuan fakultas, nantinya ditarik ke universitas, tapi pengeluarannya belum tentu mudah, sehingga dapat menghambat kegiatan penelitian. Dengan masuk ke pembukuan JICA, lebih mudah pengeluarannya. Hanya pola seperti itu dirasakan tidak menguntungkan fakultas, karena kontrolnya ada pada JICA.
Salah satu sebab tidak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan UI tersebut adalah organ-organ pengontrolnya, seperti Majelis Wali Amanah (MWA), Senat Akademik Universitas (SAU), dan Dewan Guru Besar (DGB) telah dibekukan secara sepihak setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Revisi terhadap PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam PP Nomor 66 Tahun 2010 diatur bahwa transisi UI dari PT BHMN UI kembali ke PTN akan berakhir September 2013. Menurut logika hukum, pada masa transisi pengelolaan UI tetap didasarkan pada PP Nomor 152 Tahun 2000 tentang UI sebagai PT BHMN yang di dalamnya mengatur keberadaan organ-organ, seperti MWA, SAU, dan DGB. Pembekuan organ-organ tersebut oleh rektor jelas menyalahi aturan dan merupakan tindakan sewenang-wenang selama UI masih berbentuk BHMN.

Kegagalan PT BHMN
Sebagai orang yang terlibat aktif dalam advokasi kebijakan pendidikan, termasuk menolak privatisasi dan liberalisasi pendidikan, saya dapat mengatakan bahwa apa yang terjadi di UI tersebut tidak spesifik di UI saja, tapi terjadi di PT BHMN lainnya, hanya karena civitas academica-nya tidak protes, seakan-akan PT BHMN lain tidak mengalami masalah yang sama. Padahal persoalan transparansi dan akuntabilitas--dua nilai jual dalam PT BHMN--itu merupakan persoalan jamak dialami oleh PT BHMN lainnya. Pengalaman beberapa pihak menunjukkan keinginan dapat mengakses laporan keuangan PT BHMN sering gagal karena dikatakan oleh pihak manajemen (rektorat), itu rahasia. Padahal jelas, dalam institusi pelayanan publik, penggunaan keuangan tersebut harus transparan dan akuntabel.
Ketidaktransparanan dalam laporan keuangan tersebut boleh jadi karena adanya ketidakadilan dalam penggunaan anggaran. Perbedaan gaji rektor dan dekan serta jajarannya ataupun pejabat struktural lain dengan gaji tenaga fungsional (dosen, peneliti, laboran, dan lain-lain) di PT BHMN pada umumnya terlalu timpang dan mengesankan bahwa hasil tingginya biaya kuliah tersebut hanya dinikmati oleh para pemegang jabatan struktural, tapi kurang dirasakan oleh tenaga fungsional. 

Di Universitas Gadjah Mada, misalnya, pada 2004 muncul aksi-aksi yang melibatkan sejumlah guru besar juga, seperti di UI saat ini. Mereka memprotes usulan kenaikan tunjangan jabatan struktural yang begitu tinggi, sedangkan tidak ada skema yang jelas mengenai kenaikan pejabat fungsional. Akhirnya, usulan yang dibuat oleh Rektor UGM Profesor Dr Sofian Effendi saat itu pun kandas di tengah jalan. Tapi kemunculan protes tersebut menunjukkan bahwa PT BHMN pada umumnya justru menghadapi masalah transparansi dan akuntabilitas yang sangat akut, padahal keduanya merupakan nilai jual PT BHMN. Ironis sekali bahwa soal transparansi dan akuntabilitas, yang merupakan nilai jual PT BHMN, tersebut malah tidak ditemukan di PT BHMN pada umumnya. Ini menunjukkan adanya kegagalan praktek PT BHMN.

Mengapa PT BHMN gagal mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelolanya? Tidak lain karena desain kelembagaannya keliru. Pada saat masih dalam bentuk perguruan tinggi negeri, rektor dipilih oleh Senat Universitas, yang merupakan kumpulan guru besar. Dengan sendirinya, rektor sangat hormat dan hati-hati dalam menghadapi Senat Universitas. Dan karena pemilih rektor sehari-hari ada di kampus, sepak terjang rektor terpantau terus, sehingga penyelewengan mudah terdeteksi. Tapi setelah menjadi PT BHMN, pemilih rektor adalah MWA, yang anggotanya terdiri atas perwakilan Menteri Pendidikan, Senat Akademik Universitas, tokoh masyarakat, karyawan universitas, mahasiswa, dan rektor. Tokoh masyarakat sering dipilih dari kalangan pengusaha, mereka yang mempunyai akses kapital, dengan suara dominan tetap ada pada Menteri Pendidikan (35 persen). Adapun mahasiswa hanya satu orang, sekadar untuk pelengkap. Dengan keanggotaan MWA yang beragam latar belakangnya itu, rektor yang cerdik, melalui lobi-lobinya, dapat melakukan manuver untuk memperlemah fungsi MWA, sehingga fungsi kontrol MWA tidak ada lagi. Rektor bisa tidak takut/hormat kepada SAU dan DGB karena mereka bukan pemilih rektor langsung; suaranya tidak signifikan. Pada bentuk PTN, rektor amat hormat kepada Senat Universitas.

Apa yang dapat dipetik dari pelajaran gonjang-ganjing di UI saat ini? Privatisasi PTN dalam bentuk BHMN ternyata gagal mewujudkan otonomi kampus yang sehat, demokratis, transparan, dan akuntabel. Di sisi lain, telah menutup akses orang miskin masuk perguruan tinggi (negeri) terkemuka. Karena sudah terbukti gagal, kembalikan PT BHMN ke bentuk PTN seperti semula. Agar PTN memiliki otonomi dan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, perlu dukungan Undang-Undang Keuangan yang ramah terhadap layanan publik, bukan dengan mengubah PTN menjadi bentuk lain. Yang diperlukan oleh PT BHMN dan perguruan-perguruan tinggi negeri ini bukan Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang akan menjebak PTN pada kasus yang sama, tapi UU Keuangan yang fleksibel terhadap pelayanan publik. Belum ada bukti empiris bahwa perubahan bentuk PTN menjadi PT BHMN menjadikan tata kelola PT BHMN lebih baik, dan akses masyarakat menjadi lebih luas. Yang ada justru sebaliknya, keduanya menjadi lebih buruk.
Selengkapnya »»  
Terimakasih Atas Kunjungannya. Semoga Bermanfaat