NKN NEWS STICKER

Akibat imbas debu vulkanik gunung Kelud, di Mojokerto kini langka masker. Bahkan dibeberapa apotik dan swalayan juga habis

Rabu, 14 September 2011

Menjelang Lahir, Bayi Merasakan Sakit



Kapan janin mulai merasakan sakit, membedakan antara sentuhan dan nyeri? Pertanyaan itu mungkin akan segera terjawab dengan riset yang dilakukan sejumlah peneliti Inggris. Studi tentang perkembangan bayi itu mengindikasikan bahwa sebagian besar bayi mulai merasakan sakit beberapa pekan sebelum mereka dilahirkan.



Temuan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan penanganan klinis bagi bayi yang lahir prematur. "Bayi dapat membedakan rangsang menyakitkan sebagai sesuatu yang lain daripada sentuhan umum pada masa kehamilan 35-37 pekan, beberapa saat sebelum bayi itu lahir," kata Lorenzo Fabrizi, peneliti studi di University College London, Inggris.



Para ilmuwan itu mempelajari 46 bayi di Rumah Sakit Elizabeth Garrett Anderson Wing di Bloomsbury, London. Karena 21 dari 46 bayi tersebut lahir prematur, peneliti bisa memantau perbedaan tahap aktivitas otak sejak bayi berusia 28 pekan dengan bayi yang lahir normal pada 37 pekan. Umumnya bayi lahir pada masa kehamilan menginjak 40 pekan, tapi bayi yang lahir pada usia 37 pekan telah dianggap cukup umur.



Untuk mengetahui apakah bayi-bayi itu mampu merasakan nyeri, para peneliti mengandalkan rekaman aktivitas otak menggunakan electroencephalography. Para peneliti mencatat aktivitas listrik otak bayi ketika bayi itu menjalani heel lance, prosedur rutin pengambilan sampel darah pada kaki bayi. Perubahan aktivitas otak umum menjadi reaksi otak yang terlokalisasi menunjukkan bayi mengalami rasa nyeri ketika ditusuk dengan jarum.



"Tentu saja bayi tak bisa memberi tahu kita apa yang mereka rasakan sehingga mustahil mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh bayi," kata Fabrizi. "Kami tidak dapat mengatakan bahwa sebelum perubahan aktivitas otak ini, mereka tidak merasa sakit."

 
Para ilmuwan mencatat, ketika otak bayi berkembang, lonjakan aktivitas saraf bergeser dari aktivitas yang lebih umum menjadi lebih spesifik. Hal itu membuat bayi dapat mengembangkan respons seperti orang dewasa yang lebih spesifik terhadap masukan indra tertentu.l LIVESCIENCE
Sumber: korantempo.
Selengkapnya »»  

Sekilas Negara Angola, Negara Asal Miss Universe 2011

Pengantar : Leila Lopes (25th) dari Angola terpilih menjadi Miss Universe 2011, coba kita simak perempuan cantik dan cerdas sedunia berasal dari sebuah  negara yang luas negaranya  2x pulau Borneo merupakan negara tempat terjangkitnya berbagai penyakit menular....***Nangkris





Republik Angola adalah sebuah negara yang terletak di Afrika bagian barat daya. Angola berbatasan dengan Namibia, Republik Demokratik Kongo, Zambia dan Samudra Atlantik. Cabinda, sebuah provinsi Angola berbentuk eksklave, berbatasan dengan Republik Kongo. Luas wilayah Angola hampir dua kali luas pulau Borneo; menempati peringkat ke-22 sedunia (setelah Niger dan sebelum Mali). Negara ini merupakan salah satu produsen kopi utama di dunia dan termasuk negara terkaya di Afrika berkat sumber alamnya, terutama bijih besi, intan, dan tembaga.

Pemukim awal daerah ini ialah suku pemburu-pengumpul Khoisan. Secara besar-besaran mereka digantikan oleh suku Bantu selama migrasi Bantu. Di Angola hari ini, Portugal singgah pada 1483 di Sungai Kongo, di mana Negara Kongo, Ndongo dan Lunda berada. Negara Kongo membentang dari Gabon modern di utara sampai Sungai Kwanza di selatan. Pada 1575 Portugal mendirikan koloni Portugis di Luanda yang berbasis pada perdagangan budak. Secara bertahap bangsa Portugis mengambil kontrol di garis pantai sepanjang abad ke-16 melalui serangkaian perjanjian dan perang. Mereka membentuk koloni Angola. Bangsa Belanda menduduki Luanda antara 1641-48, memberikan dorongan untuk negara-negara anti-Portugis.

Pada 1648 Portugal mengambil kembali Luanda dan mengawali proses penaklukan militer di negara Kongo dan Ndongo yang berakhir dengan kemenangan Portugis pada 1671. Kendali administratif penuh Portugis atas urusan dalam negeri tidak terjadi sampai awal abad ke-20. Pada1951 koloni itu dibenahi kembali sebagai provinsi seberang lautan, juga disebut Afrika Barat Portugis. Saat Portugal menolak proses dekolonisasi decolonization 3 gerakan kemerdekaan bermunculan:
Setelah 14 tahun perang gerilya untuk kemerdekaan, dan jatuhnya pemerintahan fasis Portugal oleh kudeta militer, partai nasionalis Angola mulai merundingkan kemerdekaan pada Januari 1975. Kemerdekaan akan didklarasikan pada November 1975. Hampir segera, perang saudara pecah antara MPLA, UNITA dan FNLA, diperburuk oleh campur tangan asing. Pasukan Afrika Selatan bersekutu dengan UNITA dan menyerang Angola pada Agustus 1975 untuk memastikan bahwa di sana tidak ada gangguan (oleh negara Angola merdeka yang baru) di Namibia, yang saat itu masih di bawah pendudukan AfSel (Hodges, 2001, 11). Uni Soviet mulai membantu MPLA dan memberi banyak dukungan ekonomi, sedangkan pasukan Kuba datang untuk mendukung MPLA pada Oktober 1975, membuatnya bisa mengendalikan ibukota, Luanda, dan menjauhkan pasukan AfSel. MPLA mendeklarasikan diri untuk menjadi pemerintahan de facto atas negeri saat sedangkan secara resmi kemerdekaan diumumkan pada bulan November, dengan Agostinho Neto sebagai presiden pertama.

Pada 1976, FNLA dikalahkan oleh gabungan MPLA dan pasukan Kuba, meninggalkan UNITA (dideking oleh Amerika Serikat dan AfSel) dan MPLA yang Marxis berseteru untuk kekuasaan.
Konflikpun pecah, dipicu oleh geopolitik Perang Dingin dan oleh kemampuan kedua partai itu mengakses SDA Angola. MPLA melahirkan pajak atas SDA minyak lepas pantai, sedangkan UNITA mengakses berlian aluvial yang dengan mudah diselundupkan melalui perbatasan negeri itu yang keropos (LeBillon, 1999).
Pada 1991, faksi-faksi itu menyetujui Persetujuan Bicesse yang mengubah Angola menjadi negara multipartai, namun setelah presiden saat itu (dan kini) Jose Eduardo dos Santos dari MPLA memenangkan pemilihan yang diawasi PBB, UNITA menyatakan adanya penipuan dan perang pecah kembali.

Persetujuan damai 1994 (protokol Lusaka) antara pemerintah dan UNITA menyediakan integrasi bekas pemberontak UNITA ke dalam pemerintahan. Pemerintahan persatuan nasional dibentuk pada 1997, namun perang meletus lagi pada akhir 1998, meninggalkan jutaan ribu orang tuna wisma. Presiden José Eduardo dos Santos mencabut fungsi tetap instansi demokrasi akibat konflik.

Pada 22 Februari 2002, Jonas Savimbi, pemimpin UNITA, ditembak mati dan gencatan senjata dicapai antara 2 faksi. UNITA membubarkan sayap bersenjatanya dan menerima peran partai oposisi utama. Meski nampaknya keadaan politik negeri itu akan kembali pulih, presiden dos Santos tetap tidak mengizinkan proses demokrasi tetap terjadi. Di antara masalah utama Angola ialah krisis kemanusiaan yang serius (akibat perang berkepanjangan), berlimpahnya pertambangan, dan aksi gerakan gerilya yang berperang buat kemerdekaan eksklaf Kabinda yang terletak di utara (Frente para a Libertação do Enclave de Cabinda). Akhirnya Angola menjadi salah satu dari sedikitnya negara Afrika yang bergabung dengan blok Soviet dan menjadi komunis, bersama dengan koloni Portugis Mozambique.

Angola, seperti banyak negara Sub-Sahara, ialah tempat berjangkitnya penyakit menular secara perodik. Pada April 2005, Angola di tengah-tengah berjangkitnya virus Marburg yang dengan cepat menjadi tempat berjangkitnya penyakit berdarah terburuk dalam catatan sejarah, dengan lebih dari 237 orang mati dilaporkan dari 261 kasus yang dilaporkan, dan telah menyebar ke 7 dari 18 provinsi dari 19 April 2005.
Sumber :Wikipedia.
Selengkapnya »»  

Selasa, 13 September 2011

Pelajaran dari Universitas Indonesia


Darmaningtyas,
Penulis buku Tirani Kapital dalam Pendidikan (2009)
Gonjang-ganjing masalah tata kelola Universitas Indonesia akhirnya sampai ke Senayan juga. Pada 7 September sejumlah dosen, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, dan alumni UI melakukan dengar pendapat dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat mengenai persoalan tata kelola di UI yang dirasakan tidak transparan serta tidak akuntabel. 

Gonjang-ganjing itu bermula dari pemberian gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis al-Saud pada 21 Agustus 2011. Tapi, menurut Dr Thamrin Tomagola, persoalan pemberian gelar doktor kehormatan itu merupakan proses meletusnya bisul saja. Bisul itu sendiri sudah lama ada di UI, yaitu sejak jabatan rektor dipegang oleh Profesor Dr Gumilar Rusliwa Somantri (September 2007), cuma tidak diketahui publik. Setelah meletus, publik baru mengetahuinya. Kebetulan meletusnya itu berkaitan dengan pemberian gelar doktor kehormatan kepada Raja Arab Saudi tersebut. Karena itu, menurut Dr Thamrin, fokus utamanya bukan "meletusnya bisul" itu, tapi bagaimana menyembuhkan bisul tersebut. 

Bisul yang dirasakan oleh civitas academica UI adalah tidak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan UI sehingga banyak yang tidak tahu ke mana larinya uang kuliah di UI yang amat mahal itu. Kenyataannya, menurut Dr Ade Armando, banyak dosen yang gajinya terlambat dibayar, atau bahkan tidak dibayar, dan pekerja kebersihan di UI hanya dibayar Rp 500-600 ribu per bulan, jauh di bawah upah minimum regional Depok yang sekitar Rp 900 ribu. Dr Thamrin Tomagola menyebutkan jalan-jalan ke luar negeri Rektor UI jauh lebih banyak daripada anggota DPR. 

Persoalan lain adalah pengelolaan keuangan yang disentralisasi di universitas sehingga sering menghambat kegiatan di tingkat fakultas akibat birokrasinya yang berbelit-belit. Sentralisasi di tingkat universitas itu bertentangan dengan spirit perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN), yang ingin memberikan otonomi dalam pengelolaan dan mobilitas dana kampus untuk memperlancar kegiatan kampus. Akhirnya, seperti dituturkan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Dr Ratna Sitompul (5 September), fakultas perlu mengatur strategi kerja sama dengan pihak lain. Kerja sama penelitian dengan JICA senilai Rp 75 miliar, misalnya, tidak masuk ke pembukuan fakultas, tapi masuk ke pembukuan JICA. Sebab, kalau masuk ke pembukuan fakultas, nantinya ditarik ke universitas, tapi pengeluarannya belum tentu mudah, sehingga dapat menghambat kegiatan penelitian. Dengan masuk ke pembukuan JICA, lebih mudah pengeluarannya. Hanya pola seperti itu dirasakan tidak menguntungkan fakultas, karena kontrolnya ada pada JICA.
Salah satu sebab tidak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan UI tersebut adalah organ-organ pengontrolnya, seperti Majelis Wali Amanah (MWA), Senat Akademik Universitas (SAU), dan Dewan Guru Besar (DGB) telah dibekukan secara sepihak setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Revisi terhadap PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam PP Nomor 66 Tahun 2010 diatur bahwa transisi UI dari PT BHMN UI kembali ke PTN akan berakhir September 2013. Menurut logika hukum, pada masa transisi pengelolaan UI tetap didasarkan pada PP Nomor 152 Tahun 2000 tentang UI sebagai PT BHMN yang di dalamnya mengatur keberadaan organ-organ, seperti MWA, SAU, dan DGB. Pembekuan organ-organ tersebut oleh rektor jelas menyalahi aturan dan merupakan tindakan sewenang-wenang selama UI masih berbentuk BHMN.

Kegagalan PT BHMN
Sebagai orang yang terlibat aktif dalam advokasi kebijakan pendidikan, termasuk menolak privatisasi dan liberalisasi pendidikan, saya dapat mengatakan bahwa apa yang terjadi di UI tersebut tidak spesifik di UI saja, tapi terjadi di PT BHMN lainnya, hanya karena civitas academica-nya tidak protes, seakan-akan PT BHMN lain tidak mengalami masalah yang sama. Padahal persoalan transparansi dan akuntabilitas--dua nilai jual dalam PT BHMN--itu merupakan persoalan jamak dialami oleh PT BHMN lainnya. Pengalaman beberapa pihak menunjukkan keinginan dapat mengakses laporan keuangan PT BHMN sering gagal karena dikatakan oleh pihak manajemen (rektorat), itu rahasia. Padahal jelas, dalam institusi pelayanan publik, penggunaan keuangan tersebut harus transparan dan akuntabel.
Ketidaktransparanan dalam laporan keuangan tersebut boleh jadi karena adanya ketidakadilan dalam penggunaan anggaran. Perbedaan gaji rektor dan dekan serta jajarannya ataupun pejabat struktural lain dengan gaji tenaga fungsional (dosen, peneliti, laboran, dan lain-lain) di PT BHMN pada umumnya terlalu timpang dan mengesankan bahwa hasil tingginya biaya kuliah tersebut hanya dinikmati oleh para pemegang jabatan struktural, tapi kurang dirasakan oleh tenaga fungsional. 

Di Universitas Gadjah Mada, misalnya, pada 2004 muncul aksi-aksi yang melibatkan sejumlah guru besar juga, seperti di UI saat ini. Mereka memprotes usulan kenaikan tunjangan jabatan struktural yang begitu tinggi, sedangkan tidak ada skema yang jelas mengenai kenaikan pejabat fungsional. Akhirnya, usulan yang dibuat oleh Rektor UGM Profesor Dr Sofian Effendi saat itu pun kandas di tengah jalan. Tapi kemunculan protes tersebut menunjukkan bahwa PT BHMN pada umumnya justru menghadapi masalah transparansi dan akuntabilitas yang sangat akut, padahal keduanya merupakan nilai jual PT BHMN. Ironis sekali bahwa soal transparansi dan akuntabilitas, yang merupakan nilai jual PT BHMN, tersebut malah tidak ditemukan di PT BHMN pada umumnya. Ini menunjukkan adanya kegagalan praktek PT BHMN.

Mengapa PT BHMN gagal mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelolanya? Tidak lain karena desain kelembagaannya keliru. Pada saat masih dalam bentuk perguruan tinggi negeri, rektor dipilih oleh Senat Universitas, yang merupakan kumpulan guru besar. Dengan sendirinya, rektor sangat hormat dan hati-hati dalam menghadapi Senat Universitas. Dan karena pemilih rektor sehari-hari ada di kampus, sepak terjang rektor terpantau terus, sehingga penyelewengan mudah terdeteksi. Tapi setelah menjadi PT BHMN, pemilih rektor adalah MWA, yang anggotanya terdiri atas perwakilan Menteri Pendidikan, Senat Akademik Universitas, tokoh masyarakat, karyawan universitas, mahasiswa, dan rektor. Tokoh masyarakat sering dipilih dari kalangan pengusaha, mereka yang mempunyai akses kapital, dengan suara dominan tetap ada pada Menteri Pendidikan (35 persen). Adapun mahasiswa hanya satu orang, sekadar untuk pelengkap. Dengan keanggotaan MWA yang beragam latar belakangnya itu, rektor yang cerdik, melalui lobi-lobinya, dapat melakukan manuver untuk memperlemah fungsi MWA, sehingga fungsi kontrol MWA tidak ada lagi. Rektor bisa tidak takut/hormat kepada SAU dan DGB karena mereka bukan pemilih rektor langsung; suaranya tidak signifikan. Pada bentuk PTN, rektor amat hormat kepada Senat Universitas.

Apa yang dapat dipetik dari pelajaran gonjang-ganjing di UI saat ini? Privatisasi PTN dalam bentuk BHMN ternyata gagal mewujudkan otonomi kampus yang sehat, demokratis, transparan, dan akuntabel. Di sisi lain, telah menutup akses orang miskin masuk perguruan tinggi (negeri) terkemuka. Karena sudah terbukti gagal, kembalikan PT BHMN ke bentuk PTN seperti semula. Agar PTN memiliki otonomi dan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, perlu dukungan Undang-Undang Keuangan yang ramah terhadap layanan publik, bukan dengan mengubah PTN menjadi bentuk lain. Yang diperlukan oleh PT BHMN dan perguruan-perguruan tinggi negeri ini bukan Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang akan menjebak PTN pada kasus yang sama, tapi UU Keuangan yang fleksibel terhadap pelayanan publik. Belum ada bukti empiris bahwa perubahan bentuk PTN menjadi PT BHMN menjadikan tata kelola PT BHMN lebih baik, dan akses masyarakat menjadi lebih luas. Yang ada justru sebaliknya, keduanya menjadi lebih buruk.
Selengkapnya »»  

Minggu, 11 September 2011

Monyet (bedhes) Lebih Patuh Pada Peraturan?

Suatu ketika ada pertunjukan topeng monyet. Seperangkat alat musik gamelan kenong 3 buah seperti apem yang dipadukan dengan kendang dan timbal...creng! dipukul keras-keras oleh sang "musikus" topeng monyet. Sementara sang "pawang" (kera atau bedhes) melakukan perintah atraksi kepada si monyet. Mulai dari memikul air, ke pasar, bersolek dan sampai naik motor.

Cepat saja dikerumuni oleh penonton yang sebgian besar adalah anak2 dan juga adapula bapak dan ibu-ibu. Mereka mengelilingi atraksi yang digelar spontan tanpa perijinan asal ada keramaian dan pelunag rejeki mereka tentulah akan menggelar atraksi topeng monyet ini.

Saat berlangsung atraksi mengambil air , sang monyet membawa timba air. Dengan pandangan kosong dan sesekali marah monyet ini menuruti perintah "majikannya" itu. Ya tak ubahnya seperti juga karyawan kantoran atau hubungan buruh dan majikan ini adalah sebuah bentuk simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Si Monyet tentu tak berharap banyak kecuali ada pisang dan air minum, namun majikan dan "staffnya" itu yang memiliki kebutuhan lebih komplek.Si monyet mengitari penonton, sesekali berhenti, mungkin saja karena kelelahan atau ngambeg, maka sang majikan akan menarik tali yang dikalungkan di leher si monyet.

Bersamaan dengan atraksi ambil air itu , seorang bapak melempar uang yang ke dalam timba, tetapi uang itu terjatu di tanah, si monyet cuek saja dengan maksud bapak tadi. Demikian pula dengan beberapa orang yang lain juga ada yang mulai memberikan uang sebagai harga "ticket" pertunjukan, lagi-lagi monyet tak menghiraukan , dia terus dengan kewajibannya menghibur orang2 di sekitarnya. Si bapa yang melempar uang itu mengambil kembali uang recehan 1000ribunya demikian pula dengan beberapa orang yang lain.

Saat atraksi mulai berakhir, maka si monyet membawa sebuah wadah yang di edarkan ke pengunjung seperti kotak amal di masjid. Maka monyet itu mulai memungut uang dari penonton, dengan seksama monyet itu mengacungkan wadahnya. 

Akhirnya ada sebuah kesimpulan dari proses ini. Bahwa monyet begitu mengerti dengan skenario yang merupakan "protap" dalam melaksanakan kewajibannya. Saat melakukan atraksi, si monyet tidak akan menghiraukan uang yang dilemparkan pengunjung seberapapun besarannya. Namun begitu sampai pada acara "pemungutan" uang, maka monyet ini mau menerima bahkan dia akan terduduk diam bila penonton tidak segera memberikan uangnya! Ternyata  monyet patuh terhadap peraturan!

Bila kita korelasikan dengan proses yang terjadi di alam manusia, masih banyak mereka yang tidak memetuhi peraturan bahkan cenderung melanggar, seperti "tega" menerima gratifikasi, bahkan proyek yang amasih dalam perencanaan saja sudah ada transaksi penyuapan...itu masih diluar hak yang diterimanya setiap bulan? Ya terlepas dari benar atau tidak apa yang diceritakan ustad semalam dalam acara halal bi halal di kampung saya ini, memang ada juga benarnya...akankah kita turun derajad dibawah derajat monyet? ato bedhes? Tidaklah ya...mari patuhi segala peraturan***Nangkris
Selengkapnya »»  

Sabtu, 10 September 2011

Menanti Wanita "Kuat"



Bu Si Bu nyuwun arto (Ibu minta uang)
Ing njawi wonten  kere (di luar ada pengemis)
Kere lumpuh lan wuto (pengemis lumpuh dan buta)
Sambat ngelak lan luwih (mengeluh haus dan lapar)

(Ibu):
Le thole ndang mriniho (Nak kesinilah)
Sego iwak lan banyu (nasi lauk dan air)
Lan maneh kandanono (Dan beritahu)
Saben Minggu kon mrene (Setiap Minggu suruh ke sini)...........



Lagu dengan bahasa daerah Jawa ini dulu sering saya dengar saat masih di sekolah TK, yach tahun 1969-an. Mudah dihafal dan tidak terlalu sulit. Karena dalam lagu ini jumlah konsonan "R"-nya relatif sedikit, konsonan "R" menjadi momok bagi anak-anak balita yang kesulitan mengucapkannya, sehingga lagu ini tidak terlalu banyak hambatan. Pinter juga ya pencipta lagu ini.

Saya membuat gambaran sendiri saat itu, seorang pengemis tua dengan tongkat dan topi ala pak tani, sedang berada di depan pintu rumah. Bajunya compang camping, suaranya parau karena haus mungkin?. Dan si tole itu adalah saya, yang kemudian meminta uang kemudian meberikannya kepada pengemis tua itu. Ibu malah memberikan nasi dan lauk dan masih berpesan bahwa setiap Minggu disuruhnya pengemeis itu ke rumah. Senang sekali saya seandainya benar menjadi pemeran dalam lagu ini.




Secara spontanitas dalam keadaan yang nyata , saya jadi tak pernah menolak ada pengemis di rumah, dan ibu juga. Tetapi yang diberikan kepada pengemis, lain dari yang ada di lagu itu karena ibu memberikan secangkir beras, suatu hari juga diberinya pengemis itu baju-baju yang masih layak pakai. Hmm betapa dahsyatnya lagu ini dalam memebentuk rasa sosial , utamanya kepada anak-anak. Mungkin demikianlah yang diharapkan oleh sang pencipta lagu ini.

Sekarang, saya sering mengamati juga seorang perempuan tua renta tetapi bukan pengemis, tetapi ibu tua ini senang mencari kayu bakar bekas buangan dari orang-orang membangun rumah atau ranting-ranting kayu yang sempal karena angin. Tak terbayang bila nenek ini bisa membawa berkilo-kilo kayu yang bisa saja terdiri dari balok kayu berbagai ukuran, atau ranting yang bentuknya tidak beraturan hanya dengan seutas selendang kusam.
Tangannya yang tinggal tulang dan kulit malah keliahtan kokoh, sekokoh semangat nenek ini untuk berjuang memperpanjang hidupnya. Apalagi bila melihat raut wajahnya yang berkerut-kerut dimakan usia dengan setia tetap menggunakan kerudung lusuh. Sepintas begitu saya berusaha mendekat , tangannya kasar, kakinya apalagi karena tak pernah bersendal, kakinya telah tebal ditempa jalanan panas membakar.

Hari Minggu, saya sengaja menanti kedatangan nenek ini di depan rumah. Karena saya merasa begitu kagum dengan perjuangan hidupnya, setua itu, dengan postur tubuh yang membungkuk tanda tulang-tulangnya telah membentuk lengkungan seperti udang, tua sekali. Hal yang lain yang begitu saya kagumi, nenek ini tidak pernah meminta. Sehingga saya, isteri dan anak-anak justru selalu ingin memebrikan sesuatu yang mungkin bermanfaat untuknya.

Begitu bayangan saya melambung kepada hal yang sangat diharapakan oleh sebagian rakyat kita "KEADILAN SOSIAL", begitu jauh jaraknya untuk menyentuh keberadaan sosial ekonomi nenek tua ini. Nenek ini pasti tidak mendapat bagian kue kesejahteraan, seperti politisi Senayan yang sebenarnya juga mewakili nenek ini, kasus korupsi di kementrian dan lembaga-lemabaga "basah" lainnya. Jauh...jauh sekali. 

Saya yakin nenek tua ini tidak akan tahu hiruk pikuk itu, adakah sebagian haknya yang terampas? hingga karena keadaan setua itu terus berjuang dengan mencari kayu bakar dan konon setelah menumpuk kayu-kayu itu dijualnya. Ada yang salahkah dalam pengelolaaan kekayaan alam dan pendapatan negara di negeri ini? Lalu apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang pintar, politikus yang sering kali membuat gaduh? 

Ya tentunya masih ada orang-orang yang tak seburuk itu di negara Pancasila ini. Dan kelapangan hati untuk saling memberi kepada yang membutuhkan, masih ada! 

Mudah-mudahan saya masih diberi keleluasaan untuk menanti wanita kuat ini meski hanya bicara dan bercanda dan mendoakan agar keteguhan hatinya ini didengar oleh Allah dan kemudian Dia memberikan yang terbaik. Amin***Nangkris

Selengkapnya »»  

Kamis, 08 September 2011

Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Singkat?


Ketika melayang dari bulan ke bumi pada 1969, astronaut Alan Bean, yang berada dalam modul Apollo 12, merasakan efek aneh. "Perjalanan pulang terasa lebih singkat," ujar Bean.


Cerita efek ganjil ini terjadi tak hanya di antariksa. Di bumi, manusia kerap merasakan hal yang sama. Perjalanan menuju suatu tempat terasa lebih lama ketimbang perjalanan kembali ke rumah, meski lintasan yang ditempuh sama jauhnya. Efek perjalanan pulang ini ternyata berhubungan dengan memori dan pengalaman manusia.


Pendapat umum mengatakan manusia mencoba mengenali daerah yang belum pernah ditempuh. Otak merekam tanda-tanda pengenal di sepanjang jalan, seperti monumen, pohon tinggi, bangunan, dan rambu lalu lintas. Pengalaman inilah yang dibangkitkan saat perjalanan pulang sehingga menciptakan efek perjalanan pulang. Namun psikolog dari Tilburg University, Belanda, Niels van de Ven, membantah pemahaman tersebut.


"Efek ini juga terjadi saat saya berkendara menggunakan pesawat. Ketika melongok ke jendela, tak ada yang bisa dikenali," ujar Van de Ven.


Berbekal keraguan atas anggapan umum tersebut, ia melakukan eksperimen yang mengeksplorasi perasaan tersebut. Ia meminta dua kelompok pesepeda menempuh perjalanan menuju sebuah tempat.

Saat perjalanan pulang, Van de Ven membagi pesepeda dalam dua kelompok. Satu kelompok diminta pulang dengan menempuh lintasan yang sama, sedangkan kelompok yang lain menempuh lintasan berbeda tapi memiliki jarak yang sama. Jika pendapat umum benar, kelompok yang menempuh lintasan pulang yang sama dengan perjalanan pergi harus merasakan waktu tempuh lebih singkat.


Hasil eksperimen berkebalikan dengan pendapat umum. Kedua kelompok sama-sama merasakan perjalanan pulang terasa lebih cepat.

Dari hasil tersebut, Van de Ven sampai pada penjelasan lain atas efek perjalanan pulang. Menurut dia, manusia terlalu optimistis saat memulai bepergian ke suatu tempat. Saat menempuh perjalanan pulang, manusia menduga perjalanan lebih panjang. "Saat melangkah pulang, manusia berpikiran perjalanan akan jauh lebih lama," Van de Ven menambahkan.


Praduga sebelum perjalanan tersebut ternyata sangat menentukan perasaan manusia selama menempuh perjalanan. Seorang optimis justru merasakan perjalanan pergi membutuhkan waktu lebih lama, sedangkan bagi seorang pesimis perjalanan pulang terasa lebih cepat.


"Efek ini timbul akibat harapan, apa yang Anda pikir akan terjadi," ucap psikolog lain dari Elizabethtown College, Michael Roy.

Ia merasa kesimpulan yang didapatkan dari eksperimen terbaru ini tak akan diterima luas oleh psikolog lainnya. Karena itu, ia mengakui temuan baru ini bukan penjelasan tunggal atas efek perjalanan pulang.l NPR | ANTON WILLIAM
Selengkapnya »»  

Selasa, 06 September 2011

Ini Dia Tas Termahal Di Dunia




Jakarta - Tas dari rumah mode Hermes seringkali disebut sebagai tas paling mahal. Namun ternyata masih ada beberapa yang jauh lebih mahal. Seperti yang dikutip dari Forbes, berikut lima tas paling mahal di dunia.

1. 1001 Night Diamond Purse
Aksesori fashion yang satu ini diklaim sebagai tas tangan termahal di dunia. Tas yang terbuat dari emas 18 karat dan dihiasi 4.517 berlian itu diberi harga 2,35 juta poundsterling atau sekitar Rp 34 miliar. Berlian yang menghiasi tas tersebut terdiri dari 105 berlian berwarna kuning, 56 berwarna pink dan 4.356 berlian putih. Berat berlian di tas itu seluruhnya 381,92 karat.

2. Chanel 'Diamond Forever' Classic Bag
Tas keluaran rumah mode Chanel ini diluncurkan pada Desember 2006. Tas dengan model klasik ini terdiri dari 334 berlian dengan total 3,56 karat dan 18 karat emas putih. Tali tas juga dilapisi emas putih. Tas yang dijual dnegan harga US$ 261 ribu atau sekitar Rp 2,2 miliar itu hanya tersedia sebanyak 13 buah di seluruh dunia, dan lima diantaranya dijual di Amerika Serikat.

3. Hermes Matte Crocodile Birkin Bag
Jika biasanya harga tas Birkin Hermes sekitar US$ 20 ribu, namun versi yang ini dilelang dengan harga US$ 120 ribu atau sekitar Rp 1 Miliaran. Selain terbuat dari kulit buaya asli, tas ini dihiasi dengan berlian 10 karat.

4. Lana Marks Cleopatra Bag
Tiap tahunnya, brand Marks selalu merilis satu tas genggam Cleopatra untuk retail. Namun beberapa tahun lalu, Marks meluncurkan Cleopatra clutch bag edisi terbatas yang terbuat dari kulit buaya berwarna perak metalik. Pada bagian atas tas bertahtakan 1500 berlian hitam dan putih serta 18 karat emas putih. Tas tersebut dihargai US$ 100 ribu atau sekitar Rp 853 juta.

5. Leiber Precious Rose
Tas yang bernama 'The Precious Rose' ini memang sangat berharga. Dibuat dalam bentuk bunga mawar, tas ini dihiasi 1.016 berlian dengan total 42,56 karat, 1.169 batu safir berwarna merah muda dan 800 kristal tourmalines. Tas ini diberi harga US$ 92 ribu atau sekitar Rp 784 juta.

(eya/fer)




Selengkapnya »»  
Terimakasih Atas Kunjungannya. Semoga Bermanfaat